No words can explain the way I’m missing you ūüėĒ

View on Path

Prospek pribadi

Sekarang saya sudah di tingkat 4 Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma. Setelah banyak belajar Psikologi, saya punya keinginan untuk menjadi seorang psikolog di bidang klinis. Kenapa harus bidang klinis? Ya karena persepsi orang banyak dan persepsi saya sendiri, sebutan psikolog paling cocok kalo disandingin di bidang klinis. Sebenernya itu cuma keinginan aja, untuk jadi psikolog kan harus sekolah S2 dulu. Andaikata sulit dicapai, saya juga punya alternatif lain. Alternatif itupun yang berhubungan di bidang psikologi, karena saya pengen apa yang udah saya pelajari setidaknya ada sangkut pautnya dalam dunia kerja saya. Kalo gak ada sangkut pautnya ya sama aja bohong kuliah 8 semester (S1), ilmunya gak banyak kepake di dunia kerja. Alternatif lain lulusan psikologi setelah S1 itu misalnya, asisten psikolog tetap (ini kalo saya belum atau gak ada kepengenan untuk lanjut S2, itung-itung cari pengalaman). Selain itu mungkin staf HRD, tapi biasanya kerjaan lulusan psikologi dalam posisi ini yang ada sangkut pautnya dalam bidang psikologi ya palingan rekrutmen. Rekrutmen juga kan gak selalu diadakan. Kalo dipikir-pikir, misalnya staf HRD lulusan psikologi banyak kepake cuma untuk rekrutmen, berarti kerjanya musiman (gak selalu, gak setiap hari). Beda tipis sama kerja di biro. Biro yang di dalamnya ada jasa psikolog, biasanya tes psikologi untuk rekrutmen. Ah tapi untuk interpretasi tesnya juga mesti psikolog yang ngerjain, kalo lulusan psikologi biasanya cuma untuk administrasinya aja (ngejalaninnya aja, ngasih instruksi ke orang-orang yang dites, bantuin scoring). Kalo dipikir-pikir lagi, kerja di biro enaknya untuk sampingan aja. Artinya harus ada kerjaan lain yang lebih serius, yang lebih sibuk, yang tetap. Contohnya jadi staf pengajar, dosen misalnya. Saya juga punya sih kepengenan untuk kerja jadi dosen di universitas, sambil lanjut S2 gitu. Abisnya kalo dipikir-pikir, boleh juga tuh kuliah sambil kerja. Kebayang betapa sibuknya, betapa repotnya. Sekarang aja udah cukup pusing, yang baru kerja per semester doang (aslab) dan belum ada kerja tetap, masih ada kuliah, ditambah sekarang gelisah abis dikabarin kalo SK skripsi udah keluar dan udah dikabarin juga siapa dosen pembimbingnya. Aduhhh, hari demi hari terasa padat. Tapi sebenernya kalo udah dijalanin sih pasti bisa, ini masih dalam tahap dipikirin aja jadinya nambah beban pikiran. Selain apa yang udah saya sebutin sebelumnya, belum ada tujuan lain sih untuk ke depannya. Saya mau selesain S1 dulu aja, skripsi kelar, sidang skripsi lancar, cepet wisuda, lulus tepat waktu, segera jadi Nurul Fitriya Ainie, S.Psi (Aamiin). Lulusan psikologi usia 20 tahun, hahaha.

Sistem Informasi dan Penerapannya dalam Bidang Psikologi

Menurut Pratiwi (2012), sistem informasi psikologi adalah sebuah sistem yang digunakan untuk mendapatkan informasi-informasi yang berhubungan dengan psikologis. Definisi lebih jelasnya adalah suatu sistem atau tata cara yang terorganisasi dari manusia, perangkat lunak, perangkat keras, jaringan komunikasi dan sumber data dalam mengumpulkan, mengubah, dan menyebarkan informasi mengenai perilaku terlihat maupun tidak terlihat secara langsung serta proses mental yang terjadi pada manusia sehingga data tersebut dapat diubah menjadi informasi yang dapat digunakan untuk tujuan tertentu seperti tujuan penelitian.

Penggunaan sistem informasi dalam bidang psikologi merupakan kerjasama antara bidang ilmu komputer dan psikologi. Hal tersebut dimungkinkan karena banyak hal dalam dunia psikologi yang masih bisa dikelola dengan menggunakan bantuan komputer.

Beberapa penerapan sistem informasi dalam bidang psikologi adalah:

1. Tes-tes psikologi

Tes-tes psikologi yang dulu diberikan secara manual sekarang sudah bisa dikomputerisasi, beberapa di antaranya adalah:

a. Tes IQ, yang dapat dilihat pada website berikut http://www.proprofs.com/quiz-school/story.php?title=test-iq-kamu-disini

b. Tes Inventori seperti tes Pauli (ketahanan, ketelitian, konsistensi, tekanan, dan kecepatan penggunaan waktu) yang dapat dilihat pada website berikut http://apps.prabowomurti.com/paulitest.php, kemudian tes MBTI (tipe kepribadian) yang dapat dilihat pada website berikut http://www.jatikomputer.com/2015/08/tes-kepribadian-mbti-online.html.

c. Tes grafis atau tes proyektif seperti tes Rorscach (bercak tinta) yang dapat dilihat pada website berikut theinkblot.com, kemudian tes TAT yang dapat dilihat pada website berikut http://www.utpsyc.org/TATintro/.

2. Konseling online

Konseling online merupakan layanan intervensi psikologis yang dilakukan antara konselor kepada klien melalui media internet. Fungsi dari konseling online adalah untuk membantu masyarakat yang mempunyai permasalahan terkait dengan psikologis untuk dikonsultasikan kepada ahlinya.

Konseling online berbeda dengan komunikasi verbal in-person. Dalam konseling online, konselor dan klien berkomunikasi menggunakan media internet yang berbasis teks interaktif. Beberapa website yang menyediakan layanan konseling online adalah http://www.psikologipsikoterapi.com/konseling-dan-psikoterapi dan http://www.tanyapsikolog.com/

3. SPSS (Statistical Package for Social Science)

SPSS adalah suatu program komputer statistik yang mampu memproses data statistik secara cepat dan tepat, menjadi berbagai output yang dikehendaki para pengambil keputusan (Santoso, 2003). Program ini memang dibuat untuk membantu berbagai bidang ilmu dalam mempermudah pengembangan ilmu tersebut. Psikologi pun menggunakan aplikasi ini dalam membantu mengolah data.

Data yang bisa diaplikasikan ke dalam SPSS berbentuk data kuantitatif. Aplikasi SPSS sangat membantu dalam bidang psikologi ketika seseorang sedang melakukan penelitian di bidang psikologi dengan metode kuantitatif. Dalam melakukan penelitian, jumlah subjek yang dibutuhkan tidaklah sedikit. Demi memperoleh hasil yang akurat, diperlukan cukup banyak subjek sebagai respondennya. Data responden nantinya akan diolah namun tidak secara manual untuk menghindari hasil yang tidak akurat, pembuangan energi dalam pelaksanaanya, terjadinya kelelahan, dsb. Dengan SPSS, berbagai masalah yang muncul jika diolah secara manual dapat teratasi. Berikut ini adalah website untuk mengunduh SPSS http://spss-64bits.en.softonic.com/download

Sumber

Pratiwi, C.D. (2012). Paper SIP: Pengantar sistem informasi psikologi. http://www.slideshare.net/coryditapratiwi/paper-sippengantar-sistem-informasi-psikologi. Diakses pada Rabu 21 Oktober 2015 pukul 09.37 WIB.

Santoso, S. (2003). Mengatasi berbagai masalah dengan SPSS versi 11.5. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Sistem Informasi dan Penerapannya

Sistem Informasi (SI) adalah kombinasi dari teknologi informasi dan aktivitas orang yang menggunakan teknologi itu untuk mendukung operasi dan manajemen. Dalam arti yang sangat luas, istilah sistem informasi yang sering digunakan merujuk kepada interaksi antara orang, proses algoritmik, data, dan teknologi. Menurut O’Brien (dalam Anonim, 2015), sistem informasi adalah gabungan yang terorganisasi dari manusia, perangkat lunak, perangkat keras, jaringan komunikasi dan sumber data dalam mengumpulkan, mengubah, dan menyebarkan informasi dalam organisasi.

Sistem informasi memiliki banyak fungsi dalam keseharian manusia, fungsi dari sistem informasi beberapa diantaranya adalah:

  1. Meningkatkan aksesibilitas data yang tersaji secara tepat waktu dan akurat bagi para pemakai, tanpa mengharuskan adanya perantara sistem informasi.
  2. Menjamin tersedianya kualitas dan keterampilan dalam memanfaatkan sistem informasi secara kritis.
  3. Mengembangkan proses perencanaan yang efektif.
  4. Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan akan keterampilan pendukung sistem informasi.
  5. Menetapkan investasi yang akan diarahkan pada sistem informasi.
  6. Mengantisipasi dan memahami konsekuensi-konsekuensi ekonomis dari sistem informasi dan teknologi baru.
  7. Memperbaiki produktivitas dalam aplikasi pengembangan dan pemeliharaan sistem.

Selain itu, sistem informasi juga memiliki peranan dalam kehidupan sehari-hari manusia. Sebagai contoh adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang produksi berbagai kebutuhan manusia memiliki sistem informasi yang menyediakan informasi penjualan produk setiap harinya serta stok produk yang tersedia. Dengan informasi tersebut, pihak perusahaan dapat membuat keputusan mengenai produk mana yang akan lebih rutin diproduksi untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Selain itu, dengan informasi tersebut juga dapat diketahui produk apa yang paling tinggi diminati konsumen, sehingga pihak perusahaan dapat memutuskan untuk memperbanyak produksi akan produk tersebut dibanding produk lainnya.

Sumber:

Anonim. (2015). Sistem informasi. https://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_informasi. Diakses pada 30 September 2015 pukul 18.50 WIB.

Dudung. (2015). 12 pengertian dan fungsi sistem informasi menurut para ahli. http://www.dosenpendidikan.com/12-pengertian-dan-fungsi-sistem-informasi-menurut-para-ahli/. Diakses pada 30 September 2015 pukul 19.21 WIB.

Ga usah ngelakuin sesuatu yang percuma menurut orang lain yah, Nurul Fitriya Ainieūüôā

View on Path

Psikoterapi tugas 3

NAMA ANGGOTA KELOMPOK:

  1. Anabella Ayunita Viyanis ‚Äď 10512722
  2. Arin Hananira ‚Äď 11512133
  3. Cornelia Agassi ‚Äď 11512643
  4. Lydia Lupita Nauli Waisappy ‚Äď 14512293
  5. Nurul Fitriya Ainie ‚Äď 15512537
  6. Putri Melinawati ‚Äď 15512775
  7. Wienda Tridimita Ayu – 18512091

KELAS : 3PA09

Pada tulisan kali ini, kami akan membahas tentang bagaimana gambaran proses therapeutic yang dapat bekerja secara tepat dalam membantu proses pemulihan psikologis klien. Tulisan ini kami kutip berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh¬† Danang Setyo Budi Baskoro dalam jurnal yang berjudul ‚ÄúModel solution focused brief group therapy¬†untuk perilaku agresif remaja‚ÄĚ.

1. Gangguan yang terjadi pada klien

Klien pada penelitian memiliki gangguan seperti berkelahi, membanting barang, memukul ketika marah, mengejek, mencaci.

2. Metode therapeutic yang digunakan

Penelitian tersebut menggunakan metode therapeutic Solution Focused Brief Group Therapy (SF­BGT). SFBGT dikembangkan oleh Deshazer dan Berg pada tahun 1980-an. Mereka mengembangkan terapi ini dari penelitian Watz Lawick, Weak­land, dan Fischer yang meyakini bahwa solusi dari masalah dapat lebih penting daripada cara mengatasinya atau memahami masalah itu sendiri. Dasar teori dari SFBGT ini didasarkan pada pandangan konstruktivisme, yaitu teori yang beranggapan bahwa seseorang meman­dang diri mereka secara subjektif. SFBGT juga dapat dianggap sebagai suatu bentuk dari Cognitive Behavioral Therapy karena melibatkan prinsip-prinsip behavioral dalam prosesnya.

3. Peran dari orang-orang yang rela merawat, dalam melakukan therapeutic

SFBGT dalam prosesnya menggunakan per­cakapan antara terapis dan klien, terapis mem­berikan pertanyaan yang bertujuan membantu klien untuk berpikir secara berbeda terhadap situasi yang mereka hadapi selama ini dalam rangka proses membangun solusi (Banks dalam Baskoro, 2013). Peranan terapis adalah mengawasi, menguatkan dan memperluas waktu pengecualian. Klien dibantu untuk membangun hidup mereka dengan tanpa perilaku yang bermasalah. Terapis membimbing mereka dalam membuat gambaran solusi (solution pic­ture) yang mana hal ini akan menjauhkan dari perilaku yang bermasalah. Tujuan dari cara ini adalah mendampingi klien untuk membangun solusi yang tidak per­nah mereka lakukan di dalam permasalahan yang dihadapi selama ini.

Peranan yang dilakukan saat terapi adalah:

a. Terapis memulai terapi dengan percakapan. Percakapan yang di­gunakan salah satunya dengan menggunakan pertanyaan pengecualian (exception question). Tujuan dari exception tersebut adalah membuka sudut pandang baru mengenai pengalaman klien sendiri di masa lalu ketika mereka mampu bersikap secara adaptif terha­dap situasi yang biasanya menimbulkan per­masalahan. Pengalaman-pengalaman tersebut merupakan sebuah contoh dari sikap yang berbeda dari klien yang nantinya juga dapat digunakan atau bahkan dikembangkan untuk menghadapi situasi yang sama.

b. Menentukan tujuan klien, juga dapat dibantu dengan teknik pertanyaan hasil (out­come question), pertanyaan ini bertujuan un­tuk menolong klien dalam membuat suatu pandangan hidup tanpa masalah yang diha­dapi saat ini. Salah satu contohnya yaitu peng­gunaan pertanyaan ajaib (miracle question). Terapis bertanya kepada klien hidup seperti apa yang mereka inginkan ketika keajaiban terjadi, seperti ketika mereka tidur dan bangun keesokan harinya, masalah mereka tersele­saikan. Pertanyaan ini memungkinkan klien dapat menentukan tujuan perubahan positif berdasarkan yang mereka bayangkan.

c. Selan­jutnya pengalaman pengecualian (exception) tujuan perubahan positif ini diperkuat dan diperluas oleh terapis dengan menggunakan teknik EARS. Elicit yaitu dengan menanyakan perubahan positif yang sudah ditetapkan oleh klien dalam menghadapi situasi yang biasanya menimbulkan permasalahan. Amplify, yaitu dengan menanyakan detail mengenai peruba­han yang positif. Detail mengenai perubahan positif ini meliputi waktu, tempat, situasi dan perilaku yang spesifik. Reinforce, yaitu meya­kinkan klien melihat dan menghargai peruba­han yang positif. Hal ini penting dilakukan untuk memperjelas realita bahwa mereka se­dang berproses untuk melakukan perubahan membangun kenyataan baru dalam perubahan yang positif.

d. Start again, yaitu mengajak klien untuk melihat solusi apa lagi yang lebih baik.

e. Teknik selanjutnya yang digunakan tera¬≠pis dalam membantu klien untuk menentukan perubahan yang positif adalah dengan meng¬≠gunakan pertanyaan¬†specific relationship, yaitu pertanyaan seperti ‚Äúbayangkan dia (orang ter¬≠tentu) ada disini, kira-kira apa yang dapat ia lihat dari perubahanmu?‚ÄĚ. Pertanyaan ini me¬≠mungkinkan klien untuk mengetahui apa yang harus atau perlu diubah dari dirinya dan men¬≠jadikan perubahan tersebut sebagai tujuan. Ketika perubahan positif tidak berjalan dengan baik, terapis dapat menggunakan coping question untuk mengarahkan klien yang terlalu fokus terhadap masalah menjadi bera¬≠lih kepada kekuatan dan sumber bagaima¬≠na mereka menghadapi negativitas tersebut. Coping question ini adalah sebagai berikut: ‚Äúbagaimana kamu terus melakukannya, se¬≠mentara kamu merasa apa yang kamu laku¬≠kan itu tidak terasa nyaman?‚ÄĚ, ‚Äúapa yang telah kamu lakukan sehingga kamu membiarkan ke¬≠marahanmu mengendalikan dirimu?‚ÄĚ.

Scaling question menanyakan situasi klien atau tingkatan goal dalam bentuk skala 1-10. Pembuatan skala ini bertujuan agar klien dapat melihat bagaimana kemajuan mereka dan se­lanjutnya klien dapat mengatur goal tersebut untuk kemajuan yang lebih baik. Teknik beri­kutnya adalah dengan menggunakan pertanyaan hubungan (relationship question), per­tanyaan ini menanyakan mengenai bagaimana cara bereaksi yang berbeda terhadap masalah (Myszor dalam Baskoro, 2013).

f. Selain itu dalam terapi ini juga ditekankan tentang kohesifitas kelompok, di­mana klien yang lain di dalam kelompok memberikan umpan balik dengan bekerjasama membuat perilaku pengecualian (exception) dan perilaku solusi dari klien lain.

4. Hambatan yang terjadi dalam melakukan proses therapeutic

Pada sesi awal terapis cukup kesulitan untuk melakukan rapport kepada anggota kelompok, karena beberapa partisipan berang­gapan bahwa mereka dipilih sebagai anak-anak yang bermasalah sehingga harus diterapi. Hal ini merupakan catatan penting bagi terapis untuk mempersiapkan cara berkomunikasi dalam membina sebuah hubungan yang lebih baik melalui penyampaian tujuan kegiatan. Se­lain itu pada awal sesi partisipan cukup gaduh, sehingga pemilihan tempat yang ideal dirasa penting untuk menunjang kelancaran proses terapi.

Dalam sesi menentukan tujuan, partisipan cukup kesulitan menjawab pertanyaan miracle question yang diajukan peneliti. Miracle ques­tion yaitu pertanyaan yang dilakukan dengan menanyakan kepada pertisipan mengenai apa yang dapat dibedakan ketika masalah telah hilang sama sekali pada keesokan hari ketika bangun tidur. Jika miracle question tidak efektif digunakan, maka dapat digunakan outcome question yaitu pertanyaan mengenai deskripsi hasil yang akan dicapai.

5. Dampak yang menandakan bahwa klien mengalami pemulihan

Dalam penelitian tersebut, klien memperoleh hasil yang positif karena terdapat penurunan perilaku agresif yang dilakukan oleh remaja yang menjadi partisipan.

SFBGT dapat menurunkan perilaku agresif remaja dalam prosesnya karena beberapa hal sebagai berikut:

a. Partisipan membuat perilaku solusi untuk menghadapi suatu situasi permasalahan dan melaksanakannya dalam waktu tujuh sesi.

b. Partisipan dapat mengetahui mengenai respon orang lain ketika mereka mencoba perilaku yang lebih baik,

c. Partisipan dapat memantau keadaan dirin­ya sendiri, sehingga lebih dapat mengendal­ikan diri ketika menghadapi suatu permasala­han.

d. Partisipan memiliki keyakinan bahwa mereka dapat mempertahankan perilaku solu­si yang telah mereka buat ketika menghadapi situasi permasalahan.

Sumber:

Baskoro, D. S. B. (2013). Model solution focused brief group therapy untuk perilaku agresif remaja. Jurnal Sains dan Praktik Psikologi, 1 (1), 14-25.

Psikoterapi tugas 2

TERAPI KELUARGA

1. Pengertian terapi keluarga

Menurut Carr (2012), terapi keluarga adalah istilah yang luas untuk berbagai metode untuk diterapkan pada keluarga dengan berbagai kesulitan biopsikososial.

Sedangkan menurut Almasitoh (2012), terapi keluarga adalah cara baru untuk mengetahui permasalahan seseorang, memahami perilaku, perkembangan simtom dan cara pemecahannya. Terapi keluarga dapat dilakukan sesama anggota keluarga dan tidak memerlukan orang lain, terapis keluarga mengusahakan supaya keadaan dapat menyesuaikan, terutama pada saat antara yang satu dengan yang lain berbeda.

Kemudian menurut Kirana (2013), terapi keluarga adalah pendekatan terapeutik yang melihat masalah individu dalam konteks lingkungan, khususnya keluarga dan menitikberatkan pada proses interpersonal. Terapi keluarga merupakan intervensi psikoterapeutik yang berfokus pada sistem sebagai suatu unit.

Dari pendapat-pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa terapi keluarga adalah metode yang menitikberatkan pada proses interpersonal dalam keluarga untuk mengetahui permasalahan, memahami perilaku, perkembangan simtom, dan cara pemecahannya.

2. Cara melakukan terapi keluarga

Tahapan terapi keluarga menurut Shives (dalam Kirana, 2013) terdiri dari wawancara awal, intervensi atau fase kerja, dan fase terminasi. Berikut penjelasannya.

a. Wawancara awal

Halley (dalam Kirana, 2013) mengidentifikasi menjadi:

1) Tahap kontrak

2) Tahap pengkajian

Panduan pengkajian keluarga menurut Shives (dalam Kirana, 2013) yaitu:

a) Konstruksi genogram keluarga

b) Deskripsi keluarga, fokus pada etnis, kelas sosial ekonomi, tingkat pendidikan, dan agama atau kepercayaan.

c) Deskripsi masalah, fokus pada persepsi tiap-tiap anggota keluarga

d) Identifikasi pola komunikasi

e) Identifikasi peran anggota keluarga: pendukung, antagonis, kritis, kambing hitam, penolong, dan korban. Apakah ada pasangan, segitiga (triangle), dan terbelah.

f) Riwayat perkembangan keluarga

g) Harapan keluarga terhadap terapi

3) Tahap eksplorasi

Pada tahap ini, terapis dan keluarga mengeksplorasi masalah lain yang berkaitan dengan masalah utama.

4) Tahap merencanakan tujuan

5) Tahap terminasi: Membuat kesepakatan-kesepakatan

b. Intervensi atau Fase kerja

Tujuan dari intervensi atau fase kerja adalah membantu keluarga menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan. Dalam fase ini dibutuhkan identifikasi kekuatan dan masalah-masalah keluarga juga kerjasama keluarga dengan terapis dalam mengatasi masalah. Kekuatan keluarga berguna dalam membantu keluarga untuk tetap stabil.

c. Fase terminasi

Fase terakhir ini adalah untuk menetapkan kontrak pertemuan berikutnya dan siapa saja anggota keluarga yang harus hadir dalam pertemuan tersebut. Selain itu, tahap ini terdiri dari evaluasi.

Jika keluarga merasa perubahan yang terjadi mengancam fungsi keluarga yang sudah ada, maka pada keadaan ini terapis harus melakukan review masalah yang telah teridentifikasi dengan keluarga dan menegoisasikan kembali kontrak dan jumlah sesi-sesi keluarga.

3. Manfaat terapi keluarga

Menurut Almasitoh (2012), konseling keluarga tidak hanya berguna untuk menangani individu dalam konteks keluarga, tetapi juga keluarga yang tidak berfungsi baik.

Sedangkan manfaat terapi keluarga menurut Maulany (1990) adalah:

a. Sebagai tambahan yang berguna untuk semua gangguan afektif

b. Mendidik keluarga dalam hal gejala dini dan sifat dari masalah pasien.

c. Memperbaiki kepatuhan pasien

Sejalan dengan pendapat tersebut, menurut Kirana (2013) terapi keluarga bermanfaat untuk klien dan juga untuk keluarga, berikut penjelasannya.

a. Klien

1) Mempercepat proses kesembuhan melalui dinamika kelompok

2) Memperbaiki hubungan interpersonal klien dengan tiap anggota keluarga atau memperbaiki proses sosialisasi yang dibutuhkan dalam upaya rehabilitasi

3) Menurunkan angka kekambuhan

b. Keluarga

1) Memperbaiki fungsi dan struktur keluarga

2) Keluarga mampu meningkatkan pengertian terhadap klien

3) Keluarga mampu membantu proses rehabilitasi

Dari pendapat-pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa terapi keluarga memiliki manfaat selain untuk keluarga secara keseluruhan, juga bermanfaat untuk klien secara individual.

4. Kasus-kasus yang diselesaikan dalam terapi keluarga

a. Kasus disintegrasi keluarga

Kasus disintegrasi keluarga, seperti retaknya hubungan antara suami dan istri serta kurangnya atau memburuknya relasi antara orangtua dan anak. Karena poros keluarga adalah hubungan antara suami dan istri, disintegrasi tersebut dapat berdampak pada perkembangan atau pertumbuhan jiwa anak.

b. Kasus kurang kondusifnya keadaan keluarga

Keadaan keluarga yang kurang kondusif akan menjadikan pribadi yang retak atau tidak utuh dan tidak berfungsi wajar. Individu akan mencari-cari pemenuhan kebutuhan dengan cara yang keliru dan di tempat yang salah. Kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi tersebut dikarenakan gangguan pada relasi suami-istri, dan juga karena kesibukan orangtua yang dapat berdampak negatif terhadap anak. Hal ini dapat dikatakan produk keluarga bermasalah.

Orangtua yang sibuk dan kurang berinteraksi dengan anak dapat mengakibatkan anak memiliki keyakinan diri yang lemah, karena itu ia mengembangkan identitas diri yang lemah pula dan memiliki arah diri yang juga lemah. Hal tersebut dapat mengakibatkan anak menjadi bingung dan dalam kebingungannya ia mengambil keputusan yang keliru bahkan yang merugikan orang lain, sedangkan anak yang hidup di tengah orangtua yang sering bertengkar dapat mengakibatkan anak menyimpan kemarahan yang berlebihan, memendam kepahitan yang berlebihan, dan anak dapat memiliki kesedihan yang berlebihan. Anak seperti ini cenderung untuk melarikan diri ke tempat yang salah, seperti pelacuran, narkoba, atau kelompok lainnya. Ia senantiasa mencari tempat untuk bersembunyi dari realitas yang terlalu menyakitkan.

5. Rangkuman contoh yang menggambarkan terapi keluarga

Kasus ini mengenai seorang remaja yang kurang mendapat perhatian dan kepedulian dari orangtuanya. Dalam kegiatan sehari-hari, kedua orangtuanya sibuk bekerja sejak pagi hingga malam sehingga tidak ada waktu untuk berkomunikasi antara ketiganya.

Karena kesibukan orangtua, pada akhirnya remaja tersebut tumbuh dengan keyakinan diri yang lemah, tidak tau arah, tersesat, ia juga kurang paham mengenai konsekuensi dari tiap perbuatan karena kurangnya bimbingan dari orangtuanya, juga karena kurangnya perhatian maka ia mencari pemenuhan emosional tersebut dari pihak lain.

Pada suatu waktu ia mengenal teman-teman baru yang sangat peduli terhadapnya. Hidupnya tidak lagi terasa sepi seperti saat ia di rumah. Hari-harinya ia habiskan di luar rumah bersama teman-teman barunya tersebut hingga pada suatu hari teman-temannya mengajak ia pergi ke suatu tempat dan menawarkannya narkoba. Salah satu temannya membujuknya dan memberi tau prosedur penggunaannya. Karena ia tidak ingin kehilangan kepedulian dan perhatian teman-temannya, maka ia menuruti perkataan temannya tersebut.

Hari-hari berlalu dan ia sudah mulai terbiasa dengan pengonsumsian narkoba. Ia tak apa walaupun harus mengonsumsi dan menjadi pecandu asalkan tidak kehilangan teman-teman yang memperhatikan dan mempedulikannya. Namun, karena narkoba, prestasi remaja tersebut di sekolah semakin menurun. Belakangan itu juga ia jarang berada di rumah. Pergi dari rumah saat orangtuanya berangkat kerja, dan pulang sebelum orangtuanya pulang ke rumah. Keluar rumah pun tidak menuju ke sekolah, melainkan ke tempat biasa teman-temannya mengajak berkumpul. Ia tidak peduli dengan kebiasaan barunya belakangan itu.

Tumbuh kembang individu tidak akan pernah lepas dari keluarga, terlebih berbicara remaja dan khususnya di budaya Indonesia. Selain itu, perubahan yang terjadi pada seorang individu (terlebih yang masih lekat dengan keluarga sebagaimana remaja) yang tidak didukung oleh keluarga akan menjadikan perubahan cenderung sulit dilakukan ataupun tidak memiliki daya tahan (family reciprocal determinism). Sebaliknya perubahan yang melibatkan kelurga akan lebih cepat dan memiliki daya tahan karena keluarga sekaligus menjadi sumber resiliensi (kebangkitan) yang menyediakan social support.

Kepala Badan Narkotika Provinsi (BNP) Aceh, Saidan Nafi, menyatakan salah satu penyebab anak-anak menggunakan narkoba adalah akibat minimnya pengawasan dari orang tua. Keluarga (orangtua) yang kurang memberikan perhatian dan kasih sayang, kondisi keluarga (orangtua) yang penuh dengan ketidakharmonisan, tidak adanya keterbukaan dalam berkomunikasi dalam lingkungan keluarga, pengawasan orang tua yang lemah, orang tua yang terlalu memanjakan buah hatinya secara materi dapat menjadi salah satu faktor penyebab individu menyalahgunaan NAPZA. Kurangnya perhatian orangtua dapat disebabkan karena orangtua terlalu sibuk mencari nafkah dan mengejar karir sehingga mengabaikan tanggung jawab moril mereka untuk mendidik anaknya, dll.

Dalam kenyataannya, keluarga dapat menjadi faktor penunjang pemulihan kecanduan narkoba tersebut, berikut tahapan pemulihannya.

a. Mencapai abstinen atau keadaan bebas narkoba: Sistem dalam keluarga tidak dalam keseimbangan namun masih memungkinkan ada perubahan positif.

b. Penyesuaian dengan pencapaian abstinen atau keadaan bebas narkoba: Keluarga berfungsi dengan mengembangkan dan stabilitas dari sistem yang baru terbentuk.

c. Pemeliharaan abstinen atau keadaan bebas narkoba jangka panjang: Keluarga harus seimbang dan stabil dengan gaya hidup yang baru dan lebih sehat.

Solusi untuk kasus tersebut, selain merehabilitasi, dapat pula diselesaikan dengan terapi keluarga. Tujuannya adalah untuk:

a. Menyediakan informasi tentang adiksi dan dampak terhadap sistem keluarga.

b. Menciptakan lingkungan yang aman dan dapat diterima oleh keluarga untuk membahas masalah yang dihadapi.

c. Membantu klien dan keluarganya agar dapat lebih terbuka dalam ekspresi bermacam perasaan, seperti malu, takut, dan sedih.

d. Membimbing klien dan keluarganya untuk keluar dari perilaku disfungsional.

e. Memfasilitasi klien dan keluarganya untuk menyelesaikan masalah dan memiliki tujuan yang realistis.

f. Membantu klien dan keluarganya dalam komunikasi sehingga mereka dapat berinteraksi dengan cara lebih konstruktif dan saling membantu.

Salah satu terapi keluarga yang dapat diterapkan untuk kasus tersebut adalah positive family therapy. Melalui positive family therapy, terapis melihat klien sebagai individu yang penuh dengan potensi positif dan daya resiliensi, bukan kesatuan dari masalah dan konflik.

Tahapan dari positive family therapy itu sendiri jika dikaitkan dengan kasus tersebut adalah pre-session, acceptance and explore positive feelings session, empower strengthens and build optimism planning, dan evaluation. Berikut penjabarannya.

a. Pre-session

Orangtua umumnya datang untuk meminta bantuan terapis agar dapat menyembuhkan anak remajanya yang kecanduan narkoba (fix what’s wrong). Umumnya mereka datang dengan luapan keluhan dan rentetan penyalahan terhadap perilaku anak ataupun pasangannya. Mereka mengungkapkan kekecewaan dan kemarahannya  (pada  anak,  pasangan,  keadaan,  Tuhan,  dan  terakhir  baru  pada  diri sendiri) dan selanjutnya meminta terapis entah bagaimana caranya agar anak berhenti dari kecanduannya. Pada sisi lain, anak duduk (sering di tengah, namun tak jarang di samping) dengan posisi sedikit mundur di belakang orangtua, menunduk dan diam, berkata cukup sepatah kata apabila ditanya.

Pada situasi ini terapis dituntut otentisitasnya (kemampuan untuk authentic) dan tidak terjebak tenggelam dalam arus katarsis orangtua dan baru sadar waktu sesi telah habis tanpa hasil apapun. Fokuskan pada apa yang menjadi masalah dan apa yang diharapkan dari setiap orang terhadap proses konseling terapi yang berlangsung. Kemampuan reframing (mengkerangkakan kembali pembicaran pada fokus tujuan) dan circular questioning (membagi pertanyaan dan kesempatan bicara) sangatlah diperlukan. Namun demikian, reframing dan circular question tetap dilakukan dalam prinsip-prinsip dasar konseling, yaitu acceptance, freeing, dan warm. Berbeda dengan teknik lain yang menjadikan penggalian masalah sebagai inti, pre-session pada positive family therapy ini hanyalah pembuka (prolog) yang memberi pemahaman bagi terapis mengenai apa yang harus dilakukan, apa yang menjadi harapan klien dan orang tua, serta apa yang menjadi indikator terapi dapat dikatakan berhasil.

b. Acceptance and explore positive feelings session

Bagaimanapun perilaku seorang anak, ia tetaplah harapan, curahan cinta, dan juga pada masa kecilnya menjadi memori kebahagiaan orangtua. Eksplorasi rasa cinta dari orangtua terhadap anak, kenangan pengalaman-pengalaman menyenangkan bersama anak, kelucuan anak, pemberian kesempatan orangtua menyampaikan dan mengekspresikan rasa sayangnya pada anak baik melalui ucapan dan pelukan (suatu hal yang ternyata selalu hilang dari keluarga remaja pecandu narkoba), dan terakhir penyampaian harapan orangtua terhadap anak, pasangan, serta diri sendiri, ternyata mampu secara drastis mengubah atmosfer konseling terapi. Orangtua yang awalnya merasa bahwa perilaku kecanduan anak adalah kesalahan dan tanggung jawab pribadi anak, dan orangtua yang saling menyalahkan sebagai defend lari dari perihnya rasa kecewa terhadap diri sendiri, melalui fase ini orangtua kemudian menyadari bahwa masalah anak adalah tanggung jawab bersama mereka, yang terpenting adalah bagaimana sekarang mengatasi masalah bersama daripada mencari siapa yang harus dijadikan kambing hitam, serta tumbuh optimisme bahwa jika di awal kehidupan berkeluarga mereka bersama mampu melampaui semua kesulitan maka sekarangpun dengan kekuatan cinta mereka juga akan bisa mengatasi masalah pada masa sekarang.

Bagi anak sendiri, yang awalnya penuh kekerasan hati karena merasa akan menjalani sidang dan hukuman, secara perlahan mencair dan menghangat hatinya saat menyadari betapa kedua orangtua mencintai dan menyayangi dirinya, memeluk dirinya, dan bersedia melakukan apapun demi dirinya.

Selanjutnya beri juga kesempatan bagi anak untuk menceritakan pengalaman bahagianya bersama orangtua, rasa cintanya pada orangtua, harapan-harapannya terhadap orangtua dan dirinya sendiri, dan juga beri kesempatan pada anak untuk mengungkapkan rasa sayangnya pada orangtua baik melalui ucapan maupun perilaku.

Keberhasilan anak mengungkapkan perasaannya menjadi indikator keberhasilan sesi pertama sekaligus dasar dari perencanaan solusi nyata untuk memperbaiki diri, dan pengembangan diri guna masa depan cerah dan menantang.

Fase ini disebut oleh Conoley (dalam Yuniardi, 2010) sebagai Initial Rapport Building and Strength Finding. Sedangkan Seligman (dalam Yuniardi, 2010)  mengungkapkan potensi positif yang dapat diekplorasi pada positive psychology therapy meliputi the pleasant life (positive emotion about past, present, and future), the engaged life (pursues engagement in deep relationship), dan the meaningful life (pursuit of meaning).

Pada akhir sesi, secara bersama dapat dirancang beragam aktivitas ataupun hal-hal yang dapat dilakukan keluarga untuk meningkatkan kedekatan dan proses belajar ulang untuk saling mencintai, menerima, dan memberi dukungan. Secara khusus klien juga merumuskan langkah-langkah yang dapat ia lakukan untuk mengurangi kecanduannya.

c. Empower strengthens and build optimism planning

Pada pertemuan kedua, evaluasi pelaksanaan aktivitas yang telah direncanakan pada akhir sesi pertama dan sekaligus penguatan-penguatan emosi positif yang telah terekspresikan dapat menjadi pengantar (prolog) sesi ini. Sedangkan fokus sesi bergeser pada penggalian daya resiliensi klien meliputi kekuatan positif klien baik secara internal maupun eksternal (I  Have), penerimaan kekuatan positif tersebut (I Am), dan terakhir adalah pembuatan perencanaan langkah-langkah konkret untuk mewujudkan harapan (I Can). Selain itu dapat pula dieksplorasi daya dukung apa saja yang bisa diberikan orangtua guna mengembangkan resiliensi anak.

Fokus tetap pada empower strengthens and build optimism planning, namun perlu sesekali eksplorasi dilekatkan dengan upaya mengatasi kecanduan klien. Porsinya lebih kecil karena menghindari terbangkitkannya emosi negatif klien.

Sesi kedua ini seringkali tidak sekritis sesi pertama, namun dapat saja atmosfer kembali negatif bilamana ternyata penguatan pada sesi pertama (insight baik klien maupun orangtua) ternyata belum kuat. Oleh karena itu, kemampuan konselor untuk tetap mengendalikan proses konseling terapi dalam atmosfer positif masih diperlukan.

Selain reframing, teknik interupting counterproductive processes (mengurangi percakapan yang berindikasi sindirian ataupun katarsis keluhan yang dapat membangkitkan kembali emosi positif) sangatlah diperlukan. Pemanfaatan teknik ini memberi perbedaan antara positive family therapy dengan teknik lain yang umumnya mentabukan atau menyela omongan klien.

Pada akhir sesi, summarization mengenai segala hal yang telah diperoleh dan direncanakan dalam sesi dapat disampaikan ulang sekaligus sebagai tugas yang harus coba dilaksanakan dan akan dievaluasi pada sesi berikutnya. Pemberian dukungan dan penguatan terhadap kekuatan positif dari klien dan keluarga untuk mewujudkan harapan dapat menjadi pengunci sesi.

d. Evaluation

Jika sesi pertama dan kedua berjalan baik, sesi ketiga hanya membicarakan pelaksanaan dari segala hal yang telah direncanakan pada sesi sebelumnya. Fokus bukan pada kendala yang terjadi dan siapa yang menyebabkan terjadinya kegagalan, melainkan pada apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut (solution focus) dan bagaimana langkah terbaik untuk pengembangan diri lebih jauh (long term planning).

Jika berjalan dengan kurang baik, terapis harus mengulang kembali eksplorasi daya positif (topik sesi 1) dan pembuatan rencana pengembangan diri (topik sesi 2). Hal ini terjadi karena progress yang ditunjukkan belum cukup memuaskan, yang indikatornya adalah presentase pewujudan rencana yang rendah, dan masih kuatnya pesimisme dan pengkambinghitaman (scape goat) pihak lain. Apabila indikasi di atas masih muncul namun proses evaluasi akhir tetap dilakukan, bisa diprediksi perubahan tidak akan terjadi dan klien akan kembali lagi pada kecanduannya.

Sekarang ini, masih sedikit perhatian yang diberikan kepada adiksi ke dalam sistem keluarga. Tidak dapat dipungkiri bahwa pecandu narkoba nantinya akan kembali kepada keluarga. Oleh karena itu, budaya di dalam keluarga harus dapat menjamin klien untuk mempertahankan pemulihannya. Agar dapat tercapai, maka anggota keluarga pun harus berubah. Terlepas dari pulih atau tidaknya seorang klien, melalui terapi keluarga, sistem keluarga yang tidak efektif dapat diubah, dan dengan berubahnya sistem dalam keluarga diharapkan lingkungan keluarga berubah menjadi sebuah lingkungan yang sehat bagi semua anggota, khususnya bagi klien dalam proses pemulihan dari penyalahgunaan narkoba.

Sumber:

Almasitoh, U. H. (2012). Model terapi dalam keluarga. Magistra, (80). 26-34.

Carr, A. (2012). Family therapy: Concepts, process, and practice (3rd ed). United Kingdom: Wiley-Blackwell.

Huda, C. (2014). Pentingnya terapi keluarga untuk kesembuhan pengguna narkoba. http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2014/04/03/pentingnya-terapi-keluarga-untuk-kesembuhan-pengguna-narkoba-644216.html. Diakses pada 5 Mei 2015 pukul 23.16 WIB.

Ifdhal, M. (2014). BNP: Penggunaan narkoba akibat kurang kepedulian keluarga. http://www.antaraaceh.com/berita/6700/bnp-penggunaan-narkoba-akibat-kurang-kepedulian-keluarga. Diakses pada 5 Mei 2015 pukul 23.25 WIB.

Kirana, S. (2013). Terapi keluarga. https://prezi.com/oye_neerolfg/terapi-keluarga/. Diakses pada 26 April 2015 pukul 12.18 WIB.

Maulany, R. F. (1990). Buku saku psikiatri. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Pramadia, I. W. (2015). Pentingnya penguatan mental bagi para pecandu narkoba. http://madanionline.org/pentingnya-penguatan-mental-bagi-para-pecandu-narkoba/. Diakses pada 5 Mei 2015 pukul 23.22 WIB.

Yuniardi, M. S. (2010). Positive family therapy bagi remaja-dewasa awal pecandu narkoba: Sebuah catatan kecil dari pengalaman praktis. https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=8&cad=rja&uact=8&ved=0CEsQFjAH&url=http%3A%2F%2Fresearch-report.umm.ac.id%2Findex.php%2Fresearch-report%2Farticle%2FviewFile%2F259%2F377_umm_research_report_fulltext.pdf&ei=R6hNVeqMFMmPuATsxoCwCw&usg=AFQjCNF6BwBbl56z2E7Fp7bONEzpZxfoJg&sig2=YRvwdoJS4hR7eGxBr7kvzg&bvm=bv.92885102,d.c2E. Diakses pada 9 Mei 2015 pukul 13.45 WIB.

Previous Older Entries